Rabu, 28 Agustus 2013

Aku dan Janjimu

Pangeran itu selalu membuatku terpanah, jatuh cinta dalam satu kedipan saja. Senyumnya, senyumku juga. Tawanya, tawaku juga. Bahagianya, bahagiaku juga. Lukanya, tentu lukaku juga.
Aku termenung dalam kata-kata yang terngiang dalam benakku. Ya, janji itu. Janji yang kau ucapkan dengan yakin dan bahagianya, janji yang amat membuatku bahagia, dan janji itu hanya diucapkan lelakiku. Indah... Indah sekali... Membuatku selalu bahagia walau duri-duri menusukku saat itu. Hingga pada akhirnya aku sadar dari lamunanku. Tersadar oleh kelamnya kenyataan. Tersadar karena duri-duri itu mulai terasa sakit sekali menusuk hariku. Busuk... Busuk... Busuk!!! Janjimu... Janji yang membuatmu paling indah diantara yang lain, kau patahkan begitu saja bersama egomu. Pemikiran yang sangat pendek, jahat, bejat!
Kecewa bukan main. Kepercayaanku ditempis begitu saja. Aku ini siapa? Sudah tak penting untuk hidupnya? Ia lebih merelakan  hancurkan hatiku ini demi hal yang paling menjijikkan itu! Hal yang paling membedakannya dari yang lain, yang selalu membuatku bangga memilikinya, apalah dayaku... kini telah hilang.
Segala upaya telah aku lakukan. Semua kata-kata telah terucapkan. Tenaga ini pun sudah letih menahanmu. Hatiku  telah remuk kecewa merasakan pedihnya kenyataan ini. Aku benar-benar kecewa. Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah menerima ini. Andai aku dapat satu kesempatan untuk meminta, akan aku mohon untuk merubahnya menjadi pangeranku lagi yang seutuhnya, yang benar-benar aku cintai tanpa ada kata 'tapi'. Aku berharap ia segera berubah dan mengubah tangisanku ini menjadi senyum tulus melihatnya benar-benar berbeda dari yang lain. Walau hati ini teramat kecewa, rasa sayangku lebih besar kepadanya. Aku selalu berusaha sabar seolah menerima kebiasaan menjijikkan itu, namun tetap saja diri ini muak memperhatikannya. Niatku menjaganya seolah dibatasi oleh tembok kokoh dan tinggi yang tak bisa diusik sama sekali. Jika kau membaca tulisanku ini, aku berharap kau sudah berubah, meniatkan diri demi tubuhmu dan diriku. Aku masih sangat kecewa, sampai detik ini pun rasa kecewaku melekat sekali. Aku benci dia, aku cinta dia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar