Minggu, 19 Januari 2014

I'm Broken

He was text me, while I was reading an article. I hasn't been reply. He mad.
He came, his eyes killed me in the deep.
He read my replied. He wanna went to home.
I put his motorcycle's key. He was strike the motorcycle helmet and he said to me in harsh manner. I shocked.
He saw me crying, but he did nothing. He mad me more.
He pointed me, my heart was broken.
I'm a girl,please.
I'm broken, I'm broken, I'm broken.

Selasa, 07 Januari 2014

Kata Pengantar

Bagian-bagian dari kata pengantar yang terdapat di setiap paragrafnya yaitu:
- Paragraf 1 : Ucapan puji syukur;
- Paragraf 2 : Judul karya tulis;
- Paragraf 3 : Tujuan makalah;
- Paragraf 4 : Ruang lingkup pembahasan;
- Paragraf 5 : Ucapan terimakasih;
- Paragraf 6 : Kritik dan saran.

Untuk contoh makalahnya nyusul, ya.

*Sumber: guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah.

Kembalikan Anugerahku

Burung-burung telah berkicau menyambut para ibu pergi ke pasar. Sinar dari jendela kamar telah menusuk mata Arum. Ia pun terbangun dan lekas ke kamar mandi. Seperti biasanya, ia amat senang karena hari ini adalah hari yang paling ia sukai. Iya, hari Minggu. Hari yang bebas dari sekolah dan kegiatannya hanya di depan laptop, tangannya mengenggam handphone, telinganya memakai headset serta es jeruk di mejanya.
Sudah dua puluh menit Arum di kamar mandi, tetapi ia tetap belum keluar. Ibunya memanggil dengan suara yang penuh emosi.
“Arum!!!” teriak ibunya. Arum tidak menjawab panggilan Ibunya dan tetap menyanyi.
“Aruuum!!!” panggilan kedua dari ibunya sambil mengetuk pintu kamar mandi beberapa kali.
“Iya, Bu. Sebentar lagi, ya.”
“Kamu itu kalau mandi jangan lama-lama, dong! Adik-adik kamu juga mau mandi. Habis mandi kamu setrika pakaian, ya. Ibu mau masak,”
“Loh? Biasanya juga Ibu habis masak masih sempat nyetrika baju, kan.”
“Iya, tapi hari ini kakak sepupumu mau datang. Dia mau cari pekerjaan di daerah sini.”
“Oh, Kak Ina? Arum udahan, kok. Sebentar ya,”
Tak lama kemudian, Arum siap untuk menyetrika. Lalu ia pun memulainya walau dengan rasa kesal karena harinya terganggu. Namun apa daya, ia memang harus membantu ibunya. Lagi pula, ia amat senang karena Kak Ina akan datang. Ia sangat sayang kepada Kak Ina.
“Tok tok tok…” Suara pintu diketuk.
“Kak Ina! Ibu, Kak Ina sudah datang! Hore…” teriak Arum. Orang tua dan kedua adik Arum segera menghampiri. Mereka berlima pun menyambut Kak Ina dengan hangat dan mengajaknya beribadah bersama.
Keesokan harinya, ibu Arum ingin pergi ke Medan untuk beberapa pekan karena ayahnya sakit. Ia harus pergi sendiri karena Arum dan adik-adiknya harus sekolah, serta ayahnya yang harus bekerja.
Selama ibunya pergi ke Medan, Arum harus menjaga adik-adiknya serta merawat kebersihan rumah. Setiap malam ia tidur dengan kedua adiknya, sedangkan kamarnya ditempati oleh Kak Ina.
Di suatu malam, saat pukul 23.15 Arum terbangun dari tidurnya dan merasa amat haus. Minum yang telah ia siapkan di kamarnya telah habis. Ia pergi ke dapur untuk mengambil minum lagi. Saat ingin keluar dari kamarnya, ia melihat ayahnya keluar dari kamar. Arum pun menunda pergi ke dapur dan memilih untuk memerhatikan ayahnya. Ayahnya pergi ke kamar Arum. Setelah itu Arum pergi mengambil minum dan kembali ke kamar untuk tidur.
Malam berikutnya, pukul 22.43 Arum belum tertidur karena laporan ilmiahnya belum selesai. Terdengar denyitan pintu terbuka. Arum kaget dan segera mendekati pintu kamarnya dan mengintip ke luar. Ia takut ada sesuatu yang buruk terjadi. Saat ia mengintip, dilihatnya ayahnya sedang berjalan ke luar dari kamarnya. Malam itu, ayahnya pergi ke kamar Arum lagi. Kamar yang ditempati Kak Ina. Arum berpikir bahwa ayahnya mungkin hanya ingin mematikan lampu kamar Kak Ina yang masih menyala walau sudah tengah malam.
Arum tetap berpikir positif walau sudah dua kali melihat ayahnya keluar dari kamarnya. Pada malam-malam berikutnya Arum sering mendengar denyitan pintu kamar ayahnya terbuka. Ia tak bisa tetap berpikir positif. Ia sudah terlalu sering melihat ayahnya pergi ke kamar Kak Ina. Tambahan pula, ia kemarin malam melihat ayahnya mengajak Kak Ina keluar kamarnya dan pergi ke ruang tamu di pukul yang sama seperti malam-malam sebelumnya.
Tanpa memberitahukan Arum dan keluarganya di rumah, keesokan harinya ibunya pulang dari Medan. Ibunya tiba malam hari pukul 22.57. Tanpa disangka, ibunya melihat ayah Arum sedang duduk berdua dengan Kak Ina di ruang tamu. Bercanda ria, bermesraan tanpa suara. Ibunya marah, membentak mereka.
“Sedang apa kalian?! Macam-macam kau, pak?”
“eng…….ng….nggaklah, mah.”
“Halah! Dasar kau pria tua mata keranjang! Dan kau! Perempuan tak tahu diri!” lalu ibu Arum pergi ke kamar, lalu membanting pintu. Arum dan kedua adiknya terbangun menyaksikan kejadian tadi.
Pagi harinya, ibu Arum mengusir Kak Ina. Kak Ina pindah ke daerah yang tidak jauh dari tempat tinggal Arum. Arum hanya dapat menangis melihat semua yang terjadi pada keluarganya. Pilu rasanya mengalami semua itu. Adik-adiknya pun merasa sangat sedih. Ia berdoa kepada Tuhan supaya tak ada lagi hal-hal yang merusak keluarganya.
“Mengapa ini semua tejadi padaku, Tuhaaaaaaaaaan?” katanya dalam hati.
Apa yang Arum harapkan belum bisa dikabulkan oleh Tuhan. Hari-hari berikutnya tetap menjadi hari yang sulit bagi keluarga mereka. Terutama pada ibu Arum. Ibunya sangat terpukul akibat peristiwa kemarin. Ia tak menyangka, lelaki yang amat dicintainya itu mengkhianatinya mentah-mentah. Janjinya hanya janji busuk. Ingin sekali ia pergi meninggalkan suaminya, namun cintanya begitu besar sehingga ia masih dapat bersabar dan menerima kenyataan pahit ini.
Ternyata walaupun Kak Ina sudah tidak tinggal di rumah Arum lagi, ayahnya tetap mengunjungi Kak Ina dan sering membawakan makanan ke tempat tinggal Kak Ina sekarang. Ibunya tau akan hal itu. Ibu Arum kembali marah. Keluarga besar Arum pun berdatangan ke rumahnya untuk menyelesaikan masalah yang bertubi-tubi ini. Masalah yang tidak ada buntutnya. Setelah semua telah hadir, siding keluarga pun dimulai. Perdebatan dan pertengkaran pun terjadi dalam siding keluarga itu. Arum hanya terdiam melihat itu.
“Saya sudah tidak kuat menahan emosi ini. Saya sudah muak melihat mukanya!” ucap Ibu Arum.
Kali ini ayahnya diusir oleh ibunya dan Kak Ina juga diusir untuk kembali lagi ke Medan atas persetujuan sidang keluarga yang telah dilaksanakan itu. Arum dan kedua adiknya menangis dan memohon kepada ibunya agar ayah mereka tidak diusir. Tetapi, keputusan itu sudah tak bisa diubah. Ibunya tetap mengusir ayahnya dan memilih untuk mengurus Arum dan kedua adiknya sendirian. Ibu Arum adalah wanita yang kuat dan tegar, namun bagaimana pun wanita tetap memerlukan pria disampingnya. Begitu pun sebaliknya.
Telah berbagai upaya dilakukan oleh Arum agar orangtuanya dapat bersatu kembali. Ia rindu saat ia dapat berkumpul bersama keluarganya dengan lengkap. Ia rindu melihat ayah dan ibunya berdiskusi tentang keluarganya. Ia rindu bercanda dengan ayahnya. Ia iba melihat ibunya berjuan menafkahi keluarganya sendirian. Ini kenyataan pedih, goresan takdir yang tajam! Ingin rasanya ia akhiri hidupnya. Namun ia sadar dengan kewajibannya. Ia adalah seorang anak yang harus berbakti kepada orangtuanya. Membantu ibunya yang sedang berjuang sendirian.
“Tuhan tidak tidur, Tuhan tau apa yang aku rasakan. Kuatkan aku, kuatkan Ibuku, Tuhan.” Doa Arum sebelum tidur.
Satu tahun setelah itu, ayahnya pulang kerumah. Ia rindu kepada anak-anaknya karena sudah lama tidak bertemu mereka. Baru sampai depan halaman rumahnya, ayahnya sudah diusir oleh Ibu Arum.
“Mau ngapain kau kesini? Pergi sana! Pergi!” perintah Ibu Arum kepada Ayah Arum. Hancur rasanya hati Arum melihat mereka berkelahi walau sudah lama tak bertemu.
Suatu hari, saat siang akan berganti malam Arum belum juga pulang ke rumah. Ibunya khawatir. Hingga pukul 21.00 pun Arum belum pulang. Ibu dan adik-adiknya panik. Ibunya menelepon teman-teman Arum dan sanak saudaranya. Ternyata Arum sedang di rumah bibinya. Ia sedang memohon kepada bibinya agar mengadakan kembali sidang keluarganya. Arum ingin ayahnya kembali lagi. Dan akhirnya sidang keluarga itu pun kembali dilaksanakan. Ibu Arum tetap tidak ingin kembali bersatu dengan Ayah Arum karena bagaimana pun rasa sakit di hatinya masih amat menyayat dan tidak terima kenyataan bahwa wanita itu adalah keponakannya sendiri.
Hidup memang perih. Banyak kenyataan yang benar-benar pahit untuk dilewati walaupun kita sudah merasa tidak kuat bertahan dikencangnya badai. Semua takdir adalah baik. Setiap peristiwa dalam hidup ini pun baik. Hanya bagaimana diri ini menghadapinya. Yang terpenting adalah kita harus selalu kuat dalam keadaan apapun dan bersyukur atas hari-hari yang telah diberikan oleh Tuhan.
Setahun kemudian, Ayah Arum kembali lagi mengunjungi anak-anaknya. Kali ini, ibunya menerima kedatangan ayahnya dan mengizinkan untuk menginap beberapa hari. Seperti ini saja Arum sudah bersyukur.
“Kapan ya keluargaku setiap hari seperti ini lagi,” pikir Arum.
Seiring berjalannya waktu, ayahnya semakin sering mengunjungi anak-anak dan istrinya. Ibu Arum semakin bisa menerima Ayah Arum kembali. Karena Ibu Arum menanggapi Ayah Arum dengan baik, keluarga besarnya pun menikahkan mereka kembali sesuai dengan budaya mereka. Walaupun awalnya Ibu Arum belum ikhlas sepenuhnya atas apa yang suaminya lakukan, namun kini mereka tetap besama di satu rumah dengan keluarga yang lengkap.
Arum sangat bersyukur dan dapat menghargai setiap detik dalam hidupnya. Kini apa yang ia inginkan telah terwujud. Orangtuanya telah bersama lagi dan semoga tidak akan ada pertengkaran yang dapat merusak keharmonisan keluarganya. Baginya kelarga adalah anugerah terindah yang diberikan Tuhan, anugerah yang harus selalu dijaga sampai hembusan nafas terakhir. Terimakasih, Tuhan.
☼☼☼