Minggu, 27 April 2014

Sudah

Aku memerhatikan lilin di meja kayu itu. Apinya kecil, begitu indah dipandang saat malam seperti ini. Setia sekali menemaniku. Mencerahkan malam yang gelap saat bintang dan bulan tak menampakkan wujudnya. Begitu pula dengan angin yang melengkapi heningnya malam.
Aku membiarkan suasana ini berjalan seiring waktu. Menikmati setiap detik dan angin yang membelai jilbabku. Tik tok... Aku melamun untuk beberapa saat...  *ZWAAHH* Api lilin itu jatuh dan mengenai taplak meja. Api cepat sekali membakar dan menghanguskannya. Tak puas dengan itu, api pun melalap meja yang terbuat dari kayu. Ah... Tidak! Angin, angin yang membuat lilin itu jatuh dan memporak porandakan malamku. Aku telah berteriak. Namun, tak ada yang menghiraukanku. Aku terjebak di dalam api yang mengelilingiku. Panas! Tolong! Sudah!

Iya, mungkin itu sepenggalan ilustrasi yang bisa menggambarkan suasana hati gue saat ini. *tsahh* Mmm... Kita anggap aja lilin itu Ogi, Angin itu si---yang namanya tidak bisa disebutkan---dia, dan tokoh Aku itu gue. Seperti yang gue gambarkan diatas, lilin itu setia banget nemenin gue, angin yang kadang ngelengkapin tapi juga ngeganggu. Selama 2,5 tahun perjalanan cinta gue dengan Ogi ini gua biarkan semua sejalan dengan waktu yang kami lewatin. Awalnya, gue gak ngerasa keganggu sama si angin ini tapi entah, sekarang gue ngerasa keganggu banget. Gak tau deh, apa karena dulu gue gak peka atau emang gak mau mikirin begituan, gue baru sadar atas ketidakenakan ini.
I'm glad 'cause I punya lelaki yang udah berusaha untuk terlepas dari jeratan masa lalu. Walau, maybe I know that sometime he was think about them but so do I. -_-hehe. Dia gak mau inget lagi dengan dulunya, tapi kok makin kesini makin ada yang ingetin. :))))))
Truely, angin ini emang bikin panas seperti cuplikan di atas. Bikin gue terjebak! Terjebak sama pikiran dan angan-angan gue sendiri. Tapi yaudahlah ya, cuma mau bilang sudah, kok.
Sudah, jangan diingatkan lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar